Sabtu, 02 Oktober 2010

GLOBAL WARMING



Global warming atau pemanasan bumi adalah fenomena alam yang biasa karena planet ini memang terus menghangat dan mendingin berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Bumi memiliki lapisan atmosfer yang melindunginya dari dampak radiasi sinar matahari. Setiap hari, panas matahari masuk ke permukaan bumi menembus lapisan atmosfir berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap bumi, sisanya dipantulkan lagi ke angkasa. Pada lapisan atmosfer bumi tersebut, terdapat selimut gas yang biasa disebut gas rumah kaca. Gas ini berfungsi menahan panas matahari agar tidak dilepas kembali seluruhnya ke angkasa, sehingga matahari tetap hangat. Selama bumi masih dalam temperatur 16 ÂșC, pemanasan bumi adalah hal yang baik. Tetapi ketika terjadi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang melebihi batas normal, panas bumi akan terperangkap dan tidak bisa dipantulkan lagi ke angkasa. Dan bumi pun akan terasa semakin panas. Global warming disebabkan oleh peningkatan jumlah gas rumah kaca, yaitu karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N20), hidro fluoro karbon (HFC), perfluoro karbon (PFC) dan sulfur heksafluorida (SF6). Ini diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi/batu bara), penggundulan & kebakaran hutan, termasuk penggunaan pupuk kimia yang berlebihan di area pertanian.

Ada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh fenomena global warming ini. Di antaranya, (1) air bersih akan semakin sulit didapatkan—hanya  20% penduduk dunia yang dapat memperolehnya, (2) badai semakin sering terjadi, (3) es di kutub mencair—sehingga menyebabkan permukaan air laut naik, (4) penyakit baru bermunculan, dan (5) kita telah kehilangan lebih dari 1000 spesies hewan dan tumbuhan dalam waktu singkat.

Apa ancaman global warming bagi negara kita—indonesia? Para scientist memprediksi, (1) sekitar tahun 2022 kemungkinan air laut akan naik sekitar satu meter dan menenggelamkan 2000 pulau, (2) terumbu karang mengalami pemutihan yang mengakibatkan berkurangnya jumlah ikan secara besar-besaran, (3) pergeseran iklim, dan (4) kenaikan suhu ekstrim di beberapa daerah belakangan ini. Bagaimanapun juga, negara kita “berperan” cukup signifikan dalam fenomena global warming ini. Pembakaran hutan skala besar yang sering terjadi akhir-akhir ini telah menghilangkan fungsi “paru-paru” dunia. Lebih dari itu, asap yang dihasilkan oleh pembakaran hutan juga telah melepaskan CO2 ke atmosfir dalam jumlah yang membahayakan. Juga termasuk aksi penebangan hutan secara liar yang dilakukan oleh segelintir penduduk—negara kita tercatat sebagai negara dengan laju deforestation tercepat di dunia saat ini.

Apa yang dapat kita lakukan untuk memperlambat laju global warming? Setidaknya ada beberapa poin pokok yang dapat kita lakukan, yaitu:

Reduce energy dengan cara (1) memilih lampu dan alat elektronik hemat energi, (2) mematikan alat-alat elektronik—TV, VCD, DVD, MP3, stereo, komputer, games, dll.—saat kita benar-benar tidak membutuhkannya, (3) membuat jadwal/batas waktu penggunaan listrik, (4) mengutamakan penggunaan tangga daripada lift di kantor-kantor, dan (5) menggunakan sepeda/jalan kaki untuk perjalanan jarak dekat.

Reduce water dengan jalan (1) menutup keran air dengan rapat—saat cuci piring, buka tutup keran hanya saat membilas cucian dan  begitu juga saat sikat gigi; (2) menghemat air untuk mandi—pilih shower daripada bathtub; (3) memilih satu gelas untuk tempat minum kita setiap hari, (4) mencuci barang di bak cuci piring/ember yang sudah terisi air daripada di keran yang mengalir, dan (5) menggunakan air hujan untuk menyirami kebun/taman.

Reduce waste di antaranya dengan (1) menghemat kertas dengan menggunakan kedua sisinya, (2) mendaur ulang sampah rumah tangga menjadi kompos, (3) membuat komunitas hijau untuk menciptakan karya dari produk daur ulang, (4) memilih produk dengan kemasan minimal dan membawa tas belanja sendiri saat berbelanja, dan (5) menggunakan tissue secukupnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar